Beberapa Jenis Smartphone yang Cocok Untuk Para Gamers

Perkembangan game yang ada membuat para gamers semakin gencar untuk memilih gadget yang sangat mendukung untuk memainkan permainan yang dimilikinya. Bagi para gamers memiliki gadget yang memadai adalah hal yang sangat penting entah harganya mahal atau pun murah. Seiring perkembangan teknologi, fungsi telepon seluler (ponsel) pun terus memenuhi segala kebutuhan penggunanya. Tidak lagi sekadar untuk berkomunikasi, kini ponsel yang kian cerdas itu telah menjelma menjadi perangkat kerja, alat navigasi, konsol game, hingga pemutar film atau video.


Untuk mengoptimalkan kemampuan itu, terutama dalam memberikan tampilan yang lebih baik, para produsen smartphone terus berinovasi. Salah satunya dengan menghadirkan fitur layar penuh.

1. Vivo V7 Plus

Desain layar Vivo V7 Plus yang diberi nama FullView Display ini memiliki rasio 18:9. Dengan layar yang luas, pengalaman saat menggunakan smartphone untuk bermain game atau menonton video menjadi lebih baik dan nyaman. Tidak hanya itu, dengan layar FullView Display, Vivo V7 Plus pun tampil semakin premium dan lebih nyaman digenggam.

Daya tarik lain Vivo V7 Plus adalah kamera utamanya yang berketajaman 16 megapiksel. Di dalamnya terdapat fitur Ultra HD yang berguna menangkap 4 foto sekaligus, lalu menyatukannya menjadi satu foto berukuran 64 megapiksel.

2. Xiaomi Mi Mix

Produk ini merupakan phablet Android kelas atas dengan desain unik berupa layar selebar 6,4 inci yang tampak seolah memenuhi bagian muka ponsel hingga ke pinggir bingkai. Mi Mix memiliki rasio layar berbanding bodi sebesar 91,3 persen. Dengan kata lain, layar IPS LCD (2.048 x 1.080 piksel) Mi Mix sangat mendominasi sisi depannya.  Untuk mewujudkan layar yang hampir tak berbatas di tiga sisi itu, Xiaomi memindahkan sensor jarak (proximity) berikut speaker telepon ke balik layar. Suara dihantarkan ke telinga pengguna melalui perantara keramik. Komponen lain, seperti kamera depan, mesti dipindahkan ke bezel di bagian bawah layar, tepatnya di pojokan sebelah kanan.

3. Huawei Nova 2i

Huawei Nova 2i merupakan perangkat pertama dari Huawei yang dilengkapi dengan teknologi Huawei FullView Display dan menawarkan layar 5,9 inci berkualitas tinggi. Rasio screen-to-body sebesar 83 persen dan aspek rasio 18:9 yang impresif dari Huawei Nova 2i ini memberikan pengalaman menonton layar lebar yang menakjubkan untuk gambar yang tajam, terang, dan jernih.

4. Samsung Galaxy S8

Layar Galaxy S8 dibuat lebih lebar dengan ukuran 5,8. Namun, ukuran fisiknya diklaim tetap ringkas karena menggunakan teknologi "infinity display" yang membuat smartphone ini nyaris tak memiliki bezel (bingkai) di sisi atas dan bawah. Bagian muka secara mayoritas ditutupi oleh layar. Saking besarnya layar di bagian tersebut, Samsung sampai menghilangkan tombol fisik dan memindahkan pemindai sidik jari ke bagian belakang. Ini tentu membuat pengalaman bermain game atau menonton film makin berkesan.

5. Oppo F5

Smartphone dengan layar 6 inci tersebut mengusung bingkai tipis alias bezel-less. Aspek rasionya 18:9, mengikuti tren smartphone saat ini. Oppo mengklaim seri F5 menjawab kebutuhan masyarakat modern yang ingin desain apik dengan fitur yang mumpuni. Dimensi perangkat Oppo F5 terpaut tinggi 156 mm, lebar 76 mm, dan ketebalan 7.5 mm. Bisa dibilang, dimensinya cukup ringkas dan pas digenggam untuk bermain game dan menonton film, apalagi beratnya hanya 152 gram.

Berkat F3 dan A37 Oppo Dapat Pepet Samsung Pada Kuartal Ketiga

Persaingan tekhnologi semakin meningkat dan semakin singit. Berbagai vendor berusaha berlomba untuk menarik perhatian para konsmen untuk membeli produk gadget yang di luncurkan. Gadget yang di suguhkan berbagai macam harganya dan berbagai macam modelnya. Semakin lama semakin canggih gadget yang di luncurkan oleh para vendor.

Laporan kuartal ketiga 2017 dari firma riset IDC pun sudah menunjukkan persaingan yang semakin ketat di industri smartphone. Samsung dan Oppo menempati posisi pertama dan kedua dengan selisih pangsa pasar hanya 4,5 persen. Samsung menguasai pangsa pasar sebesar 30 persen dan Oppo 25,5 persen di Indonesia. Menurut PR Manager Oppo Indonesia, Aryo Meidianto, peningkatan pangsa pasar yang signifikan berkat tingginya penjualan Oppo F3.

"Hero product kita di kuartal ketiga (2017) adalah Oppo F3. Tapi seharusnya Oppo F5 akan lebih tinggi lagi. Jumlah pre-order saja lebih banyak Oppo F5 dibandingkan Oppo F3 dulu," ia menjelaskan. Pemesanan awal Oppo F3 pada Mei 2017 tercatat sekitar 35.000-an, sementara Oppo F5 mencapai 48.000-an. Kendati begitu, Aryo enggan memasang target untuk mengalahkan kompetitor satu-satunya.

"Target kami adalah kepuasan pelanggan. Kalau masyarakat puas, angka-angka itu akan mengikuti dengan sendirinya," ia menuturkan. Selain Oppo F3, dua lini yang juga berkontribusi terhadap pertumbuhan bisnis sang pabrikan China adalah Oppo A37 dan Oppo F3 Plus. Tak diumbar secara gamblang angka penjualan masing-masing lini.

Diketahui, pada kuartal ketiga 2016, pangsa pasar Oppo masih sebesar 16,7 persen di Indonesia. Artinya, selama setahun Oppo berhasil mengambil ceruk pasar sebesar 8,8 persen. Selain Samsung dan Oppo, tiga vendor ponsel lainnya yang mendominasi pasar smartphone Tanah Air adalah Advan (8,3 persen), Vivo (7,5 persen), dan Xiaomi (5,2 persen).

General Electric PHK 12.000 Karyawan Akibat Peningkatan Listrik Berbasis EBT

Beberapa hari yang lalu perusahaan industri asal AS General Electric (GE) dikabarkan akan memangkas 12.000 karyawan. Pemangkasan karyawan tersebut mencapai 18 persen dari jumlah karyawan global perusasaan GE pada divisi bisnis listrik. Pihak GE pun menyatakan bahwa untuk mengambil keputusan tersebut pun sangat sulit namun harus dilakukan.


Pasalnya, GE harus menghemat biaya sebesar 1 miliar dollar AS, sejalan dengan permintaan pembangkit listrik berbahan dasar fosil semakin berkurang berganti ke energi baru dan terbarukan (EBT). GE berencana memangkas 1.100 posisi pekerjaan pada bisnis listrik di Inggris, khususnya yang berlokasi di Stafford dan Rugby. Selain itu, pemangkasan jumlah karyawan juga akan dilakukan di Swiss dan Jerman, masing-masing sebesar sepertiga dan seperenam.

Pengurangan jumlah karyawan merupakan bagian dari strategi restrukturisasi yang dicanangkan CEO baru GE, John Flannery. Ia menduduki jabatan tersebut sejak Agustus 2017 lalu. "Pasar listrik tradisional, termasuk (tenaga) gas dan batu bara telah berkurang," ujar pihak GE.

Pada kuartal III 2017, pendapatan GE merosot 5 persen menjadi 1,8 miliar dollar AS. Ini disebabkan lemahnya bisnis listrik dan migas. GE Power, lini bisnis terbesar GE, memiliki lebih dari 55.000 orang karyawan di seluruh dunia. Anak usaha GE tersebut memproduksi turbin, generator, dan berbagai jenis perlengkapan pembangkit listrik lainnya.

"Keputusan ini menyakitkan, namun perlu dilakukan oleh GE Power untuk merespon disrupsi pada pasar, yang menyebabkan rendahnya volume produksi dan layanan. Rencana ini membuat kami lebih ramping dan kuat," ujar Russell Stokes, Presiden dan CEO GE Power.