BPJS Kesehatan Fokus Tingkatkan Pelayanan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama

Pengguna fasilitas BPJS kesehatan kini semakin banyak bahkan hampir semua menggunakannya untuk mendapatkan fsilitas kesehatan yang layak. Guna membuat masyarakat puas akan faskes yang di dapat, saat ini Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sedang fokus untuk meningkatkan mutu pelayanan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Dengan demikian, kepuasan peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) dapat meningkat pula. Sealah satu upaya yang ditempuh adalah melalui implementasi Kapitasi Berbasis Kompetensi Pelayanan (KBK). 


Dalam penerapan KBK, terdapat model reward dan konsekuensi pemenuhan komitmen pelayanan alias kinerja FKTP. Jika kinerjanya optimal, maka FKTP tersebut akan memperoleh tarif kapitasi maksimal. Hal ini merupakan bagian dari pengembangan sistem kendali mutu pelayanan demi efisiensi dan efektivitas pelayanan kesehatan di FKTP. Hingga Maret 2018, ada 21.893 FKTP yang menjadi mitra BPJS Kesehatan. Dari angka tersebut, sebanyak 17.035 FKTP resmi berkomitmen menerapkan KBK, 8.392 di antaranya adalah FKTP non Puskesmas alias FKTP swasta. Adapun sisanya secara bertahap tengah berproses menerapkan skema tersebut. “Setiap hari jumlah peserta JKN-KIS makin bertambah. 

Oleh karenanya, FKTP diharapkan mampu mengoptimalkan fungsinya sebagai gate keeper dalam memberikan pelayanan kesehatan, sehingga angka rujukan bisa dikendalikan sesuai dengan kebutuhan medis," kata Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan Maya Amiarny Rusady di Jakarta. Dari sisi kuantitas, BPJS Kesehatan juga gencar memperluas jaringan mitra kerja sama. Tujuannya adalah agar semua peserta JKN-KIS memperoleh pelayanan kesehatan yang adil dan merata. Maya menuturkan, saat ini fasilitas kesehatan masih terkonsentrasi di sejumlah titik padat penduduk, antara lain di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Adapun di daerah perbatasan dan pedalaman, jumlahnya belum sesuai dengan kebutuhan, ditambah pula dengan kondisi geografis dan akses transportasi yang menjadi tantangan tersendiri.

“Oleh karena itu, diperlukan upaya dari seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pihak swasta, serta para pemangku kepentingan lainnya, untuk bersama-sama mengupayakan pemerataan persebaran tenaga medis dan fasilitas kesehatan, sehingga peserta JKN-KIS di seluruh wilayah Indonesia memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai,” ungkap Maya. Sampai dengan 13 April 2018, jumlah peserta JKN-KIS telah mencapai 196.047.305 jiwa. Angka tersebut setara lebih dari 75 persen total penduduk Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar