Cerita Awal Mula Kehadiran Royal Golden Eagle dan Tanoto Foundation


Source: Inside RGE

Royal Golden Eagle (RGE) kini dikenal sebagai korporasi kelas internasional yang sukses. Dengan aset senilai 18 miliar dolar Amerika Serikat dan karyawan 60 ribu orang, sebutan itu tak berlebihan. Publik sekarang memang telah mengenal keberadaan RGE. Namun, tak banyak yang tahu tentang awal mula kehadirannya. Kisah kelahirannya sangat menarik dan bisa menjadi inspirasi siapa pun untuk bisa mengikuti jejaknya. Royal Golden Eagle pertama kali berdiri pada 1973. Pendirinya ialah pengusaha Sukanto Tanoto. Kala itu, ia memberi nama awal Raja Garuda Mas

Dulu bidang industri yang digeluti Raja Garuda Mas berbeda dengan sekarang. Saat ini, RGE memiliki anak-anak perusahaan yang menekuni industri pulp dan kertas, selulosa spesial, serat viscose, minyak dan gas, serta kelapa sawit. Tapi awalnya mereka justru berkecimpung dalam produksi kayu lapis. Pada era 1970-an terdapat tren ekspor kayu gelondongan. Banyak pihak yang melakukannya dan mengirim kayu ke berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Jepang, dan Taiwan. Hal itu cukup menarik karena profit tinggi yang dijanjikan dalam bisnis tersebut. 

Akan tetapi, Sukanto Tanoto malah gundah melihat situasi seperti itu. Sebab, oleh para importir, kayu gelondongan dijual lagi ke Indonesia dalam bentuk kayu lapis. Tentu saja harganya jadi mahal ketika sudah masuk ke pasar dalam negeri. Sukanto Tanoto makin gerah ketika tahu bahwa seringkali orang di Indonesia kesulitan untuk memperoleh kayu lapis. Mereka mesti mengimpor. Hal itu dia rasa sangat konyol karena negeri kita sejatinya kaya akan kayu. Kondisi itu akhirnya membulatkan Sukanto Tanoto untuk mendirikan Raja Garuda Mas pada 13 Maret 1973. Ia berencana membuatnya sebagai perusahaan produsen kayu lapis. 

Segera setelah mendirikannya, Sukanto Tanoto mengajukan izin untuk pembuatan pabrik kayu lapis di Besitang, Sumatera Utara. Kala itu, ia berjanji untuk menyelesaikan pembuatannya selama 14 bulan saja. Padahal, biasanya prosesnya mencapai dua tahun. Namun, kenyataannya, Raja Garuda Mas mampu menyelesaikan pembuatan pabriknya lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Pabrik kayu lapisnya sudah selesai dalam setahun. Sesudah itu, pihak pemerintah segera melakukan verifikasi kelaikan pabrik kayu lapis yang didirikan Raja Garuda Mas. Semua berjalan lancar. Bahkan, perwakilan pemerintah malah memberi tahu bahwa pabrik tersebut akan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto. 

Hal itu hendak dilakukan karena presiden ingin memperlihatkan dukungan terhadap para pengusaha yang mampu memajukan perekonomian Indonesia. Kebetulan pada 1975, Indonesia sedang merayakan 30 tahun kemerdekaan. Selain itu, tingkat ekonomi di negeri kita tengah maju pesat. Pada 7 Agustus 1975, Presiden Soeharto meresmikan pabrik kayu lapis Raja Garuda Mas. Ia hadir beserta para menteri di kabinetnya. Saat itu, Sukanto Tanoto menyambutnya dan memberinya tur dan penjelasan tentang pabrik yang mempekerjakan sekitar dua ribu orang tersebut. 

Itulah tonggak awal kehadiran Raja Garuda Mas dalam berbagai bentuk industri sumber daya. Kayu lapis memang tidak ditekuni lagi oleh RGE, namun dari sana semua berawal. Kini Royal Golden Eagle sudah memiliki anak perusahaan atau cabang yang tak hanya ada di Indonesia tapi juga di Singapura, Malaysia, Filipina, Brasil, Kanada, dan Tiongkok. Karena sudah menjadi perusahaan skala global, pada 2009 Raja Garuda Mas berganti nama menjadi Royal Golden Eagle demi mengakomodasi arah bisnis ke pentas internasional. Berkat itu pula RGE mampu menjadi kebanggaan Indonesia. Sebab, anak-anak perusahaannya selalu menjadi pemain penting dalam industrinya masing-masing baik di level lokal maupun internasional. 

MERINTIS TANOTO FOUNDATION 


Pabrik kayu lapis di Besitang menjadi tonggal awal kehadiran Raja Garuda Mas hingga bertransformasi menjadi Royal Golden Eagle. Namun, lokasi itu pula yang menyemai semangat filantropi Sukanto Tanoto hingga melahirkan Tanoto Foundation. Perlu diketahui, Sukanto Tanoto dan istrinya Tinah Bingei Tanoto, mendirikan Tanoto Foundation pada 2001. Yayasan filantropi ini mereka hadirkan demi merealisasikan impian, yakni menghapus kemiskinan dari Indonesia. Meski baru resmi berdiri pada 2001, jejak Tanoto Foundation sudah dimulai sejak 1981. Besitang menjadi titik awal pertumbuhan kegiatan filantropi yang dilaksanakan oleh Sukanto Tanoto. 

Kala itu, pabrik kayu lapis Raja Garuda Mas sudah resmi beroperasi. Namun, Sukanto Tanoto melihat ada kesulitan yang dirasakan oleh para pegawainya terkait pendidikan anak-anak mereka. Di Besitang, kualitas pendidikan jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Medan, tempat tinggal Sukanto Tanoto. Kondisi ini membuat hati Sukanto Tanoto tergerak. Bersama sang istri, ia akhirnya memutuskan untuk mendirikan sekolah di Besitang agar kualitas pendidikan anak-anak karyawan RGE meningkat. Pada 7 September 1981, taman kanak-kanak akhirnya didirikan. Setahun sesudahnya, tepatnya pada 1 Juli 1982, giliran sekolah dasar yang dibuat. Lalu, pada 1 Maret 1984, sekolah menengah pertama juga mereka hadirkan. 

Untuk menjamin kualitas pendidikannya, Sukanto Tanoto dan istri berdialog dengan para pakar pendidikan di Medan. Mereka diajak untuk membuat konsep kurikulum dan pengajarannya agar bermutu tinggi. Sejak saat itu, kaitan antara Tanoto Foundation dan pendidikan mulai muncul. Edukasi juga menjadi bagian penting dari kegiatan Tanoto Foundation hingga kini. Lihat saja, dalam bidang pendidikan Tanoto Foundation mempunyai beragam program. Mereka punya berbagai jenis beasiswa. Selain itu, mereka juga mendukung pengembangan kualitas para guru hingga sarana dan prasarana pendidikan. Bukan hanya itu, semangat untuk mau membaca juga ditanamkan kepada publik lewat berbagai jenis kegiatan lainnya. 

Berkat itu semua, banyak pencapaian yang diraih oleh Tanoto Foundation. Hingga kini, yayasan yang digagas oleh pendiri Royal Golden Eagle tersebut sudah membagikan beasiswa untuk sekitar 20 ribu orang, Selain itu, fasilitas sekolah yang mereka dirikan atau bangun telah mampu meluluskan 27 ribu orang. Sementara itu, terkait kesejahteraan masyarakat, Tanoto Foundation juga sudah berbuat banyak. Mereka tercatat sudah membuat 60 ribu hektare lahan perkebunan untuk penghidupan masyarakat. Selain itu, sekitar 1.800 lapangan kerja dibuka lewat program Usaha Kecil dan Menengah yang mereka jalankan. 

Sedangkan untuk aksi-aksi sosial lain, Tanoto Foundation tercatat cepat beraksi ketika muncul bencana alam. Mereka sering memberi bantuan untuk para korban tsunami, erupsi gunung berapi, tanah longsor, ataupun banjir. Bahkan, Tanoto Foundation juga sering memberi dukungan untuk sejumlah riset terkait beragam penyakit seperti kanker, diabetes, serta beragam jenis problem kardiovaskular. Jejak langkah mereka dimulai dari Besitang. Di sana pula Raja Garuda Mas hadir serta berkembang menjadi Royal Golden Eagle seperti saat ini.

0 komentar:

Posting Komentar