Ini Dia Penyebab Tutupnya Gerai Clarks Di Indonesia

Sejak bulan lalu diberitakan bahwa Clarks akan menutup gerainya di seluruh Indonesia, beberapa pengamat mengatakan bahwa tutupnya gerai tersebut akibat penurunan daya beli masyarakat dan adanya kemajuan teknologi yang menyebabkan terjadinya persaingan perdagangan secara online dan offline. Namun, Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo)  Eddy Widjanarko menyebutkan,  penutupan gerai sepatu Clarks di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya persaingan dengan toko online. Menurut dia, saat ini industri sepatu memang sedang mengalami stagnasi. Penutupan gerai Clarks menjadi salah satu patokan bagaimana industri sepatu domestik kurang bergairah.


Berdasarkan informasi yang disampaikan kepada Aprisindo, ada tiga hal yang membuat Clarks menutup gerainya di Indonesia. Pertama, karena harga sewa mal yang relatif tinggi, kedua, bea masuk yang tinggi dan tarifnya berubah-ubah dan ketiga, pengaruh persaingan dengan toko online. "Online orang bisa beli dari belahan dunia manapun dan sampai rumah dengan free. Itu pasti mengancam (peritel), orang beli sepatu tidak kena bea masuk," ujarnya. Dengan seperti itu, tentu saja produsen sepatu yang sudah impor dengan bea masuk, kemudian menyewa toko di mall dan pusat perbelanjaan akan tergerus. Belum lagi kebijakan dan bea masuk impor yang selalu berubah-ubah yang tidak memiliki fix cost sehingga membebani operasional.

"Anak muda itu sekarang tinggal pilih beli dari online saja, itu memang sampai sekarang tidak begitu terasa tetapi sudah mulai ada efeknya. Ke depan itu toko-toko di mal itu akan terkena imbasnya juga," lanjutnya. Dirinya memprediksi tahun ini dan tahun depan, industri sepatu masih akan mengalami tantangan yang sama. Dalam dua tahun ini, stagnasi akan dialami oleh industri sepatu domestik, kendati ada ajang pilkada namun itu tidak akan banyak membantu. "Di satu sisi peredarang uan banyak di tahun politik, tetapi di lain pihak tidak sebanyak tahun politik sebelumnya karena ada pemeriksaan KPK orang takut untuk spending politik," ucap dia.

0 komentar:

Posting Komentar