iLotte, E-Commerce Baru Milik Salim dan Lotte Group Hadir di Indonesia

Startup di Indonesia, khususnya e-commerce memang tengah berkembang pesat. Ditengah-tengah pertarungan e-commerce yang kian sengit, tak jarang satu atau dua situs belanja online mati ditengah jalan. Faktor yang melatarinya cukup banyak. Dari mulai habisnya pendanaan, ketatnya persaingan hingga manajemen yang amburadul

Meskipun demikian, nyatanya e-commerce di Indonesia masih memiliki daya tarik yang besar bagi sebagian investor berduit. Salah satu daya tarik itu tak lain adalah percepatan digital literasi masyarakat Indonesia hingga pola hidup konsumtifnya.

Salah satu e-commerce yang baru saja hadir di Indonesia adalah iLotte. Dilansir Tirto.id, Pada Selasa (10/10/2017), dua induk perusahaan besar asal Indonesia dan Korea Selatan, membentuk sebuah perusahaan e-commerce baru bernama iLotte melalui PT Indo Lotte Makmur. Dua induk perusahaan besar itu ialah Salim Group dan Lotte Group.

“Salim punya banyak visi membangun digital ekonomi di Indonesia. Kemarin Salim akuisisi Elevenia, nah ini [iLotte] salah satu bagiannya membangun ekonomi digital Indonesia,” ucap Steven Calvin, Vice President Director PT Indo Lotte Makmur.



Dalam pertarungan dunia e-commerce Indonesia kala ini, Salim Group dan Lotte Group melalui iLotte telah mengucurkan dana senilai 100 juta dolar AS. Ardi Sudarto, Chief Marketing Officer PT Indo Lotte Makmur mengungkapkan bahwa iLotte setidaknya memiliki tiga konsep unggulan yaitu Flash Delivery, iPoint, serta iStyle.id.

Flash Delivery merupakan fitur yang memungkinkan pembeli menerima barang yang dibelinya melalui iLotte dalam rentang tiga jam semenjak konfirmasi pembayaran dilakukan. Sementara itu, iStyle.id merupakan media bagi generasi milenial yang disediakan iLotte, sedangkan iPoint merupakan poin reward 1 poin Rp1.

“iPoint ialah poin reward, bukan eWallet,” ucap Ardi. Namun, ia tak menampik bahwa suatu saat, iPoint akan bertransformasi menjadi eWallet.

iLotte memailiki konsep yang hampir serupa dengan Lazada maupun Blibli yang telah lebih dahulu eksis. Baik Lazada dan Blibli menerapkan sistem penjual tertutup. Namun, dua ecommerce tersebut masih memungkinkan penjual individu/toko menjual barangnya. iLotte hanya mengizinkan brand resmi yang berjualan di e-commerce mereka.

“Tidak ada personal seller di sini,” ungkap Ardi.

iLotte mengusung konsep brand mall. Dalam konsep itu, setiap brand atau merek yang menjual produknya di iLotte mendapat tampilan tersendiri. “Seolah-olah masuk ke website-nya brand masing-masing,” tambah Ardi.

Kerja sama antara raksasa Indonesia dan Korea Selatan membawa pengaruh cukup signifikan pada rupa e-commerce ini. Produk-produk Korea misalnya, akan mudah ditemui pada iLotte. “Korea fashion, kosmetik, dan juga kimchi [bisa dibeli] bagi Anda penggemar Korea,” tambah Ardi.

“100 produk Korea [akan dihadirkan] tahun depan,” ucap Phillip Lee, Chief Executive Officer iLotte.

Masuknya iLotte pada pasar e-commerce Indonesia jelas merupakan tanda manisnya segmen ini. Pendapatan ecommerce Indonesia secara menyeluruh, diprediksi berada di angka 7,05 miliar dolar AS pada tahun 2017. Ini terjadi atas pesatnya penetrasi pengguna yang mencapai 10,6 persen tahun ini.

Segmen yang paling menonjol dalam dunia e-commerce Indonesia adalah fashion. Diperkirakan, fashion mengambil 2,46 miliar dolar AS pendapatan e-commerce di tahun 2017 ini.

Sementara itu, pada 2022 mendatang akan tercapai angka 16,47 miliar dolar AS jika peningkatan pengguna e-commerce berkisar di angka 15,7 persen. Dalam dunia ecommerce Indonesia, selain berhadapan dengan segmen yang hampir mirip seleperti Lazada ataupun Blibli, iLotte harus berhadapan dengan e-commerce dengan konsep market place seperti Bukalapak dan Tokopedia.

Bukalapak pernah mengklaim bahwa nilai transaksi mereka mencapai Rp50 miliar pada 2016. Sementara Tokopedia, pada bulan April lalu telah menerima pendanaan baru sebesar 147 juta dolar AS.

(Artikel asli https://tirto.id/salim-group-dan-lotte-group-bentuk-e-commerce-baru-ilotte-cx9A)

0 komentar:

Posting Komentar